TENTANG KOPI

Selasa, 14 Januari 2020
TENTANG KOPI


Pada tahun 1696 Wali Kota Amsterdam Nicholas Witsen memerintahkan komandan VOC di Pantai Malabar, Adrian van Ommen untuk membawa bibit kopi ke Batavia atau sekarang yang disebut Jakarta. Bibit kopi tersebut diujicoba pertama di lahan pribadi Gubernur-Jendral VOC Willem van Outhoorn di kawasan yang sekarang dikenal sebagai Pondok Kopi, Jakarta Timur. Panen pertama kopi Jawa, hasil perkebunan di Pondok Kopi langsung dikirim ke Hortus Botanicus Amsterdam. Kalangan biolog di Hortus Botanicus Amsterdam kagum akan mutu kopi Jawa. Menurut mereka mutu dan cita rasa kopi Jawa itu melampaui kopi yang pernah mereka ketahui. Para ilmuwan segera mengirim contoh kopi Jawa ke berbagai kebun raya di Eropa. Kebun Raya Kerajaan milik Louis XIV salah satunya yang menerima contoh kopi Jawa. Orang-orang Prancis segera memperbanyak contoh kiriman dan mengirimkannya ke tanah jajahan mereka untuk dibudidayakan, termasuk Amerika Tengah dan Selatan. Akhirnya dunia mengakui cita rasa yang mantap dan aromanya yang khas menjadi daya tarik Kopi Jawa. Perdagangan kopi sangat memang menguntungkan VOC, tetapi tidak bagi petani kopi di Indonesia saat itu karena diterapkannya sistem cultivation. Seiring berjalannya waktu, istilah a Cup of Java muncul di dunia barat, hal ini mengesankan kopi Indonesia identik dengan Kopi Jawa, meskipun masih terdapat kopi nikmat lainnya seperti kopi Sumatera dan kopi Sulawesi. Kopi yang ditanam di Pulau Jawa pada umumnya adalah kopi Arabika.


Kejayaan Kopi Jawa berawal dari penerapan tanam paksa (cultuurstelsel/sistem budidaya) masa Gubernur Jenderal Johannes Van Den Bosch berkuasa (1830-1840).  Peter Boomgard dalam buku Anak Jajahan Belanda Sejarah Sosial dan Ekonomi Jawa 1795-1988 mencatat, tanam paksa mewajibkan petani mengalokasikan seperlima lahan untuk tanaman bagi pasar Eropa, yakni kopi, tebu, nilam, teh dan tembakau.  Sistem tanam paksa ini jauh lebih keras dan kejam dibanding sistem monopoli VOC karena ada sasaran pemasukan penerimaan negara yang sangat dibutuhkan pemerintah. Petani yang pada zaman VOC wajib menjual komoditi tertentu pada VOC, kini harus menanam tanaman tertentu dan sekaligus menjualnya dengan harga yang ditetapkan kepada pemerintah. Aset tanam paksa inilah yang memberikan sumbangan besar bagi modal pada zaman keemasan kolonialis liberal Hindia Belanda pada 1835 hingga 1940.


Perkebunan kopi di wilayah Priangan (Jawa Barat) juga diberlakukan dengan sistem tanam paksa.  Hasil tanam paksa selama 40 tahun (1831-1870), pemerintah Kolonial Belanda telah menarik keuntungan sebanyak 832 juta gulden. Sedangkan De Louter mencatat, keuntungan yang diperoleh Belanda lewat tanam paksa selama tahun 1840-1979 adalah 781 juta gulden. Yaitu 22 juta gulden per tahun.  Perkebunan tersebut terletak di daerah Pegunungan Priangan.  Demikian besarnya sumbangan dari sektor perkebunan di wilayah Priangan pada pemerintahan Belanda, sehingga mendapat prioritas pembangunan akses jalan baik jalan raya maupun jalan kereta api.  Hal tersebut sebagai penunjang peningkatan pemasaran hasil produksi dalam sektor perkebunan.


Selain Kopi Priangan, Kopi Jawa yang ada di Jawa Tengah berasal dari Tawangmangu. Dimana kopi yang ada type S Line atau asli peninggalan Belanda.  Kopi Jawa yang dikembangkan diperkirakan ada sejak Tawangmangu dipilih oleh orang-orang Belanda yang memilih Lereng Lawu sebagai tempat untuk mukim sekaligus mengembangkan usaha perkebunan teh dan kopi. Saat ini populasi kopi arabika Tawangmangu masih tersisa sekitar 4 hektar dan mulai ada pengembangan oleh Mahadri Coffee.  Sedangkan di Jawa Timur, Kayu Mas, Blewan, dan Jampit pada umumnya adalah kopi robusta. Di daerah pegunungan dari Jember hingga Banyuwangi terdapat banyak perkebunan kopi arabika dan robusta. Jember sudah dikenal dunia sebagai daerah penghasil kopi Jawa yang berkualitas dan nikmat. Produksi Kopi Jawa dari jenis kopi arabika yang terkenal di dunia telah membuat banyak pengusaha Jawa sukses berdagang kopi.


Harga kopi arabika yang banyak diproduksi di Jawa lebih mahal daripada kopi robusta.  Bahkan banyak negara di dunia terutama Amerika dan Eropa menyebut kopi identik Jawa.  Produksi kopi dari Indonesia merupakan tersebar ke-3 di dunia.


Kopi Jawa menjadi salah satu primadona seperti kina, tebu, teh dan karet.  Kopi Jawa yang dikonsumsi para gadis Belanda melepas lelah di akhir pekan setelah berkeliling kota tua di Braga Bandung dengan minum kopi.  “Let’s have a cup of Java” merupakan undangan minum kopi yang popular bagi orang Eropa dan Amerika.  Hal tersebut menjadi riwayat yang tidak terpisahkan Kopi Jawa bagi orang kulit putih yang dulu menjadi primadona, yang diangkut dari perkebunan dataran tinggi melalui akses-akses jalan yang dibuat pada zaman penjajahan Belanda untuk diekspor ke Eropa.


Kopi terdiri lebih dari 90 species kopi. Dari seluruh spesies kopi hanya 25 yang paling komersial untuk buah, dan hanya 4 spesies yang memiliki posisi terkemuka dalam perdagangan biji kopi, yaitu Kopi Arabika (Coffea arabica), Kopi Robusta (Coffea canephora), Kopi Liberica (Coffea liberica), Kopi Excelsa (Coffea dewevrei).


Kopi Arabika


Kopi Arabika (Coffea arabica) diduga pertama kali diklasifikasikan oleh seorang ilmuan Swedia bernama Carl Linnaeus (Carl von Linné) pada tahun 1753. Jenis Kopi yang memiliki kandungan kafein sebesar 0.8-1.4% ini awalnya berasal dari Brasil dan Etiopia. Arabika atau Coffea arabica merupakan spesies kopi pertama yang ditemukan dan dibudidayakan hingga sekarang. Kopi arabika tumbuh di daerah di ketinggian 700–1700 m dpl dengan suhu 16-20 °C, beriklim kering tiga bulan secara berturut-turut. Jenis kopi arabika sangat rentan terhadap serangan penyakit karat daun Hemileia vastatrix (HV), terutama bila ditanam di daerah dengan elevasi kurang dari 700 m, sehingga dari segi perawatan dan pembudayaan kopi arabika memang butuh perhatian lebih dibanding kopi robusta atau jenis kopi lainnya. Kopi arabika saat ini telah menguasai sebagian besar pasar kopi dunia dan harganya jauh lebih tinggi daripada jenis kopi lainnya. Di Indonesia kita dapat menemukan sebagian besar perkebunan kopi arabika di daerah pegunungan Toraja, Sumatera Utara, Aceh dan di beberapa daerah di Pulau Jawa.


Beberapa varietas kopi arabika memang sedang banyak dikembangkan di Indonesia antara lain kopi arabika jenis Abesinia, arabika jenis Pasumah, Marago, Typica dan kopi arabika Congensis.


Kopi Robusta

Robusta adalah salah satu jenis tanaman kopi dengan nama ilmiah Coffea canephora. Nama robusta diambil dari kata “robust“, istilah dalam bahasa Inggris yang artinya kuat. Sesuai dengan namanya, minuman yang diekstrak dari biji kopi robusta memiliki cita rasa yang kuat dan cenderung lebih pahit dibanding arabika.


Biji kopi robusta banyak digunakan sebagai bahan baku kopi siap saji (instant) dan pencampur kopi racikan (blend) untuk menambah kekuatan cita rasa kopi. Selain itu, biasa juga digunakan untuk membuat minuman kopi berbasis susu seperti capucino, coffee latte dan macchiato.


Biji kopi robusta dianggap inferior dan dihargai lebih rendah dibanding arabika. Secara global produksi robusta menempati urutan kedua setelah arabika. Indonesia merupakan salah satu negara penghasil kopi robusta terbesar di dunia. Sebagian besar perkebunan kopi di negeri ini ditanami jenis robusta, sisanya arabika, liberika, dan excelsa.


Kopi Liberika

Kopi liberika memiliki nama ilmiah Coffea liberica var. Liberica. Kopi ini disebut-sebut berasal dari Liberia, walaupun ditemukan juga tumbuh secara liar di daerah Afrika lainnya.


Kopi liberika menjadi populer setelah dibawa oleh bangsa Belanda ke Indonesia pada abad ke-19. Kopi ini dikembangkan untuk menggantikan tanaman kopi arabika yang terserang wabah penyakit karat daun. Namun upaya tersebut kurang berhasil.


Saat ini kopi liberika ditanam secara terbatas di negara-negara Afrika dan Asia.  Secara global produksinya jauh di bawah arabika dan robusta.


Kopi Excelsa

Kopi excelsa ditemukan pertama kali pada tahun 1905 oleh August Chevalier, seorang botanis dan ahli taxonomi asal Perancis. Dia menemukan kopi ini di sekitar aliran Sungai Chari tidak jauh dari Danau Chad di Afrika Barat..  Mulanya tanaman ini disebut Coffea excelsa, kadang-kadang disebut juga sebagai Coffea dewevrei.


Dikemudian hari kopi ini tidak dianggap sebagai spesies tersendiri melainkan digolongkan sebagai varietas kopi liberika dengan nama ilmiah Coffea liberica var. dewevrei.  Hingga saat ini klasifikasi dan nama ilmiah kopi excelsa masih diperdebatkan, tak heran bila kopi ini memiliki banyak nama sinonim.


Kopi excelsa tidak banyak diperdagangkan, dimana lebih dari 90% perdagangan kopi dunia didominasi jenis arabika dan robusta. Sehingga budidayanya juga dilakukan secara terbatas. Di Indonesia kopi excelsa bisa ditemukan di perkebunan kopi dataran rendah seperti Jambi dan Kepulauan Riau.


img-1579001086.jpg


Kopi Sumedang

Kopi Sumedang merupakan salah satu tanaman yang mempunyai sejarah dalam perkebunan kopi dan merupakan salah satu tanaman kopi asli peninggalan zaman Belanda.


Pada tahun 1808, Herman Willem Daendels diangkat menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda di wilayah Indonesia mengemban tugas untuk mempertahankan wilayah Jawa dari serangan pasukan Inggris. Berbagai upaya dilakukan oleh Daendels untuk mempertahankan wilayah Jawa mulai dari memperkuat pertahanan hingga membangun infrastruktur yang memadai. Selain itu, pada masa Daendels, produksi kopi termasuk dalam perhatiannya.  Daendels melakukan segala reformasi dengan cara yang lebih baru dan cepat.  Kawasan Priangan dibagi wilayah-wilayahnya seperti wilayah penghasil kopi dan bukan penghasil kopi.  Wilayah penghasil kopi yaitu Kabupaten Sumedang, Bandung, Cianjur dan Parakanmuncang.  Sumbangsih Daendels paling legendaris adalah pembangunan Jalan Raya Pos dari Anyer sampai Panarukan.  Jalan tersebut menghidupkan dan mempercepat arus distribusi kopi ketika dibawa ke gudang pemerintah.  Jalan Raya Pos ini melewati Bandung, Sumedang dan Cianjur. Sebagai wilayah penghasil kopi utama Priangan.


 Contoh nyata adanya perkebunan kopi di Sumedang adalah kerangka-kerangka beton bangunan bedeng buatan Belanda di tengah sawah dan kebun di sebuah perkampungan di Cadas Pangeran.  Di masa silam, bedeng tersebut merupakan bagian dari kompleks perkebunan kopi yang tumbuh subur di sekitar wilayah tersebut. Dan pembuatan jalan Cadas Pangeran dibuat untuk akses pengangkutan kopi ke luar daerah Sumedang untuk diekspor ke Eropa.


Ditemukan tiga jenis tanaman kopi yang diduga selamat dari serangan penyakit yang membuat perkebunan kopi Jawa Barat hampir punah pada tahun 1922. Tanaman kopi unggulan tersebut adalah jenis arabika yang jumlahnya masing-masing kurang dari 20 pohon, yang ditemukan di Sumedang dan Garut. Dari hasil uji cita rasa terhadap tiga tanaman tersebut, mendapatkan hasil yang unggul, dengan nilai 85.  Citarasa yang diperoleh berupa citarasa caramel, bunga dan kacang-kacangan.  (Balai Pengembangan Benih Tanaman Perkebunan, 2015).


Kopi Sumedang merupakan salah satu Kopi Jawa (Java coffee) yang sangat diperhitungkan kualitasnya. Salah satunya kopi dari Gunung Manglayang yang sudah mendapatkan pengakuan Indikasi Geografis, dimana dengan pengakuan dan penilaian tersebut, kopi Manglayang, khususnya dari Gunung Manglayang Timur yang termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Sumedang, telah diakui keunggulan dari kualitas citarasa dan aroma dari kopi tersebut. Selain Gunung Manglayang, yang mempunyai potensi perkebunan kopi diantaranya Gunung Tampomas, Gunung Cakrabuana, Gunung Lingga dan Gunung Kareumbi.


Kopi Sumedang, khususnya Gunung Manglayang sudah mendapat pengakuan Indikasi Geografis sebagai Java Preanger Coffee oleh Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis pada Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual. Khususnya masuk kategori Spesialty Coffee.  Pengakuan Indikasi Geografis dibutuhkan untuk melindungi kopi Jawa Barat, dengan kriteria tertentu tidak bisa dimanipulasi sebagai kopi Java Preanger (Arief Sofyan, 2015).


 Proses pemanenan menentukan kualitas dari kopi.  Tingkat kematangan buah kopi tidak terjadi secara serentak. Sehingga proses pemanenan memerlukan waktu yang lama. Musim panen kopi di Indonesia biasanya dimulai pada bulan Mei/Juni dan berakhir sekitar Agustus/September. Periode panen raya berlangsung 4-5 bulan dengan frekuensi pemetikan buah kopi bisa setiap 10-14 hari sekali.


Tanaman kopi berbunga tidak serempak sehingga buahpun matang tidak serempak, oleh kerena itu buah kopi dipetik secara bertahap.  Buah yang berwarna merah dipetik satu per satu dengan tangan. Ciri-ciri buah kopi yang telah matang bisa dilihat dari warna kulitnya. Buah kopi yang paling baik untuk dipanen adalah yang telah matang penuh, berwarna merah.  Panen buah kopi pertama umumnya sedikit.  Jumlah tersebut meningkat dari tahun ke tahun dan mencapai puncaknya setelah tanaman berumur 7 – 9 tahun.  Tanaman kopi berumur 7 – 9 tahun rata-rata produksi 500 – 1.500 kg kopi beras/ha/tahun.  Tanaman kopi yang dikelola secara intensif produksinya men-capai 2.000 kg/ha/tahun.  Buah kopi mulai masak bulan April/Mei sampai September/Oktober.


 Dengan adanya program pemerintah dalam hal pembagian benih kopi setiap tahunnya, termasuk pembagian bibit ke wilayah Kabupaten Sumedang, akan menambah produktivitas kopi di Jawa Barat.


Pemerintah Jawa Barat sangat mendukung pengembangan Kopi yang telah dan sedang di programkan untuk rakyat Jawa Barat. Sesuai dengan kebijakan Gubernur Jawa Barat yang telah dan akan memberikan benih Kopi terhadap para petani, dimulai tahun 2014 dengan pemberian benih kopi 1 juta pohon, dari tahun 2015 s/d 2016 sudah dilaksanakan pembenihan kopi 4 juta benih untuk penanaman kopi di Jawa Barat dan selanjutnya pada tahun 2017-2018 direncanakan akan dilaksanakan pembenihan 10 juta benih sehingga berjumlah 15 juta benih kopi. Dalam mendukung pengembangan tanaman kopi Jawa Barat sejak tahun 2014 s/d 2018 harus menyediakan lahan  seluas 7.500 Ha.  Pada tahun 2017, pemerintah membagikan 5 juta pohon kopi kepada para petani se-Jawa Barat melalui Jabar Lautan Kopi.  Pemberian kopi tersebut dimaksudkan untuk melestarikan sebagai tanaman konservasi di dataran tinggi, selain meningkatkan kesejahteraan para petani. 


Konservasi Lahan

Tanaman kopi dapat menahan tanah dan air sama dengan tanaman hutan.  Dengan kata lain bahwa fungsi konservasi tanaman kopi tidak berbeda dengan tanaman hutan.  Vegetasi tanaman kopi berfungsi sebagai sarana konservasi tanah dan air.  Sifat-sifat botani dan standar budidaya tanaman kopi yang berperan dalam konservasi tanah dan air adalah tajuk yang berlapis-lapis dapat melindungi tanah dari tetesan air hujan langsung (rain drops impact) sehingga mencegah splash erosion.


Perkebunan kopi dapat mengintegrasikan tiga target capaian kesejahteraan. Capaian ini terdiri dari mendukung konservasi lingkungan keberlanjutan, mendukung kesejahteraan hewan, dan mendukung kesejahteraan petani kopi.


Kopi juga mempunyai akar tunggang yang kuat sampai kedalaman hingga 3 meter, dan akar lateral sampai sepanjang 2 meter dengan ketebalan sekitar 0,5 meter dari permukaan tanah dan membentuk anyaman ke segala arah (Wrigley, G. 1988. Coffee. Longman Sci Tech).  sifat  ini dapat melindungi dan memegang tanah dari daya erosif air hujan.


Kajian-kajian tentang manfaat ekologi dari budidaya kopi multistrata mengarah pada kesimpulan bahwa bduidaya kopi multistrata memiliki fungsi konservasi terhadap keragaman hayati dan juga mampu menekan erosi sampai pada tingkat yang dapat diterima.  Budidaya kopi multistrata secara finansial dan ekonomis ternyata mampu memberikan keuntungan bagi petani dan sekaligus menyediakan lapangan pekerjaan di perdesaan secara berkelanjutan. Nilai strategis dari budidaya kopi multistrata adalah bahwa penggunaan lahan ini  bisa digunakan sebagai pilihan dalam penyelesaian konflik lahan yang berakar pada perbedaan persepsi atas pemanfaatan kawasan hutan (Budi dan Wijaya, ICRAF).


Seperti halnya perkebunan kopi di wilayah Kabupaten Sumedang, bahwa penanaman kopi pada umumnya menggunakan lahan pemerintah yang notabene merupakan kawasan hutan yang diantaranya hutan Pinus, di bawah pengelolaan Perum Perhutani Kabupaten Sumedang.


Pada umumnya tanaman kopi di wilayah Kabupaten Sumedang, khususnya di Gunung Manglayang Timur, sudah menggunakan konsep perkebunan kopi multistrata, yakni kopi ditanam di bawah tegakan pohon Pinus, yang menjadikan pohon Pinus sebagai pelindung dari cahaya matahari.  Budidaya kopi multistrata (mixed/shaded coffee atau agroforestri kopi) yang menjadi wacana sejak dua dasa warsa belakangan ini.  Padahal budidaya kopi multistrata sudah lama dipraktekkan oleh para petani kopi tradisional di berbagai belahan dunia.


Perkebunan kopi dengan pola multistrata dapat memberikan keuntungan diantaranya dapat mengurangi intensitas cahaya matahari, dimana tanaman kopi membutuhkan naungan dan tanah yang selalu tertutup tanaman sehingga aman dari erosi.


Tanaman penaung berfungsi menurunkan penyinaran matahari yang berlebih dan menyangga suhu udara dan kelembaban relatif yang dapat berpengaruh terhadap fisiologi tanaman kopi.  Tanaman penaung memegang peranan penting bagi pekebun kopi oleh dampaknya terhadap sumberdaya lingkungan seperti konservasi biodiversitas, konservasi tanah, dan kualitas air, serta sebagai preservasi karbon (Vaast et al., 2008)


Menurut Dr. Dadan Mulyana, ahli Ekologi yang berasal dari Sumedang, mengatakan bahwa tanaman kopi memiliki fungsi pada aspek biodiversity dan lingkungan.  Sebatang pohon kopi memiliki peranan atau fungsi dalam mendukung ekosistem lainnya.  Hal ini disebabkan oleh komposisi yang terdapat dalam sebatang pohon kopi menyokong terhadap keberlanjutan biodiversity sekitarnya.  Oleh sebab itu kopi tidak hanya memiliki fungsi ekonomi, namun lebih dari itu tanaman kopi juga memiliki peranan bagi keberlangsungan biodiversity di sekitarnya.  Maka di saat seseorang mengusahakan kopi di suatu kawasan, berarti juga telah mengusahakan keberlanjutan dari biodiversity di kawasan tersebut.


Sumber : Kopi Geulis Sumedang



Komentar

    Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar